Jalasutra
Cari Buku
;
 
Jalasutra

Secara harfiah, kata Jalasutra terdiri atas dua kata: jala dan sutra. Gabungan keduanya merujuk pada sebuah entitas yang bisa digunakan untuk menjaring gagasan dan pemikiran yang orisinal, relevan, kaya, kritis, dan membawa nilai kebaruan, yang tersebar dalam dunia wacana di Indonesia.

Penerbit Jalasutra sudah mengembangkan ranah garapan ke pelbagai bidang: seni, desain, komunikasi, politik, feminisme, sains, teori dan kritik sastra, psikologi, dan kajian sosial. Dalam dunia sastra, Jalasutra juga melebarkan sayap dengan menerjemahkan karya sastra dunia dan karya para pemenang nobel.

 
Untitled Document
Kategori
Berita
Buku Baru
 
 
Berita
Kritik Feminisme atas Budaya Populer
Budaya populer menjadi kajian menarik dan tidak ada habisnya dalam studi-studi ilmu budaya. Budaya populer yang lahir dari rahim modernisme dan dibesarkan oleh industri sebagai instrumen utama kapitalisme, punya andil besar membentuk dan memproduksi dinamika kehidupan masyarakat dalam mendefiniskan dan memproyeksikan dirinya. Salah satu kritik yang ditujukan pada budaya populer ialah wataknya yang pragmatis, artifisial, dan karenanya dangkal. Buku berjudul Feminisme, Femininitas, dan Budaya Populer ini menyajikan bagaimana feminisme sebagai sebuah bentuk politik yang bertujuan untuk mengintervensi dan mengubah hubungan kekuasan yang tidak setara antara lelaki dan perempuan, melakukan kritik terhadap budaya populer. Joanne Hollows, dosen senior dalam kajian media dan budaya di Notingam Trent University, mengidentifikasi beberapa pendekatan feminis kunci terhadap budaya populer dari tahun 1960 sampai 1990. Melalui buku ini Joanne juga menunjukkan bagaimana hubungan antara feminisme, feminitas, dan budaya populer sering bermasalah satu sama lain. Joanne memperkenalkan gagasan utama tentang feminisme gelombang kedua dan feminisme cultural studies, kemudian memaparkan perdebatan kalangan feminis dalam mendekati budaya popular. Penulis mengambil beberapa kasus kajian: film perempuan, fiksi romantis, opera sabun, budaya konsumsi dan material, praktik fashion dan kecantikan; juga budaya anak muda dan musik pop. Sebelum melihat lebih jauh perdebatan feminis terhadap budaya populer Joanne menggarisbawahi bahwa identitas feminisme merupakan produk dari konteks historis tertentu. Kritik feminis pada kasus film perempuan misalnya. Bagaimana film-film diproduksi dan menempatkan perempuan sebagai objek. Keberadaan perempuan dinilai dari sejauh mana dia tampil dengan watak femininitas yang ditonjolkan. Demikian pula fiksi romantis yang mereproduki budaya patriarki. Perempuan disuapi dengan cinta sejati. Opera sabun yang membahayakan kesadaran politik perempuan. Praktik fashion dan kecantikan yang telah mendikte perempuan untuk diarahkan. Pada kutub yang lain, budaya anak muda serta musik pop, terusmenerus memproduksi ilusi-ilusi tentang kebahagiaan, kesedihan, dan aneka macam bentuk budaya yang menghilangkan kreativitas. Kajian pengantar ini ditulis dengan penuturan sangat terperinci dan mudah dipahami. Teori-teori feminisme dipaparkan melalui kajian kasus budaya populer yang tak terpisahkan dalam keseharian. Tinjauan mengenai kritik para feminis dalam menggambarkan perbedaan kultural antara apa yang “feminis” dan yang tidak, sambil menunjukkan bagaimana identitas feminis sering kali diproduksi sebagai bentuk penolakan atas bentuk dan praktik feminin. Buku ini memaparkan menunjukkan bagaimana implikasi posisi tersebut terhadap posisi politik budaya feminis. Penulis mengilustrasikan betapa penting memahami identitas feminin dan feminis sebagai salah satu situs perjuangan dalam konteks historis yang spesifik. Aris Kurniawan, penulis cerpen, reportase, dan esai di beberapa koran. Sumber: Koran Jakarta 8 April 2010 Judul: Feminisme, Femininitas, dan Budaya Populer Penulis: Joanne Hollows ISBN: 978-602-8252-28-7 Ukuran: 15 x 21 cm Tebal: viii + 296 hlm Terbit: Maret 2010 Harga: Rp 47.000
 
 
Untitled Document